Posts

Showing posts with the label Budaya

Hari Wayang Dunia | 7 November 2018

Image
[Historiana] - Jika ingin menghancurkan suatau bangsa, hancurkanlah budayanya. kalima yang diucapkan Dalang Asep Sunandar Sunarya (alm) ketika mementaskan wayang golek khas Sunda (Jawa Barat). Wayang adalah salah satu produk budaya bangsa Indonesia. Wayang pernah dituding-tuding sebagai sesuatu yang "haram". Pun demikian dengan Tari Jaipongan. Jika semua produk budaya Indonesia dicap "haram" kemudian ditinggalkan oleh bangsa ini, mau jadi apa bangsa ini? Seiring perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara, pada era sekarang ini, salah satu pilar bangsa telah mengalami kerapuhan. Fenomena merebaknya perseteruan antarindividu ataupun golongan yang sepertinya telah menanggalkan konsep bhinneka tunggal ika. Isu SARA kembali merebak mewarnai dinamika kehidupan ideologi, politik, ekonomi, sosial, hukum, dan budaya yang dapat menjerumuskan bangsa menuju pada jurang kehancuran. Adu kekuatan fisik, kemampuan logika, argumentasi liar, perilaku destruktif, dan egosentris ter...

Raja-raja Jawa dan Sunda Keturunan Dewa atau Nabi?

Image
[Historiana] - Kajian menarik dalam salah satu sisi sejarah dan budaya bangsa dengan menelusuri kerjaan-kerajaan Nusantara. Dalam artikel ini difokuskan membahas kerajaan yang ada di Pulau Jawa yaitu raja-raja Jawa dan Sunda di masa lampau. Lebih menarik lagi, bila meneliti dan mengkaji rundayan carita atau pancakaki dalam bahasa Indonesia disebut sebagai silsilah. Silisilah ini ada yang mengaitkannya dengan dewa-dewa lalu dikaitkan dengan nabi-nabi. mengapa bisa begitu? Silsilah raja-raja Jawa dan Sunda biasanya ditulis dalam Naskah babad atau Serat. Naskah yang berisi silsilah ini digunakan para raja sebagai alat legitimasi kekuasaannya. Dengan demikian ia mewakili kuasa Tuhan sekaligus di dunia ini. Menurut Ekadjati (1988: 9), naskah yang berisi silsilah, sejarah leluhur, dan sejarah daerah pada masanya merupakan pegangan kaum bangsawan. Selain itu, naskah tersebut juga menjadi alat legitimasi bagi raja yang berkuasa. Pada masa lalu raja-raja di tanah Jawa dikenal gemar sekali mema...

Prabu Siliwangi Disunat: Budaya Asli Sunda?

Image
[Historiana] - Kisah Prabu Siliwangi selalu menarik keingintahuan kita. Apalagi kisah disunatnya Prabu Siliwangi tercatat dalam Naskah Carita Parahyangan . Prabu Siliwangi yang dimaksud dalam Naskah Carita Prahyangan adalah Prabu Sanghyang Sri atau Prebu Ratudéwata. Prebu Ratudéwata adalah anak dari Prabu Surawisesa putera Sri Baduga Maharaja. Jadi Prebu Ratudéwata adalah Cucu Sri Baduga yang termashur dengan julukan Prabu Siliwangi (III). Dengan demikian, Prebu Ratudéwata bergelar "Prabu Siliwangi V". Berikut kutipan dari Naskah Carita Parahyangan : Prebu Ratudéwata, inya nu surup ka Sawah-tampian-dalem. Lumaku ngarajaresi. Tapa Pwah Susu. Sumbé lé han niat tinja bresih suci wasah. Disunat ka tukangna, jati Sunda teka. Prabu Ratudéwata, enya éta nu hilang ka Sawah-tampian-dalem. Ngajalankeun kahirupan saperti rajaresi. Tapa Pwah Susu. Disunatan, maksudna supaya bersih, suci tina kokotor ari dikumbah, disunat ku tukangna, pituin Sunda éta téh.  (Prabu Ratudewata, iya yan...

Pembagian Waktu dan Musim dalam Budaya Sunda | Mengenal istilah Wanci

Image
[Historiana] - Waktu atau wanci (dalam bahasa sunda) merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.Orang Sunda menggunakan ciri-ciri waktu atau wanci untuk menentukan waktu dalam sehari semalam sebelum mempunyai arloji atau bekér. Istilah waktu pada umumnya didasari oleh pengalaman kejadian, dan alam sekitarnya yang memberi ciri bahwa orang sunda sangat bersahabat dengan alam sekitarnya. Istilah waktu untuk orang sunda dalam sehari semalam berdasarkan keadaan alam 1. Wanci Tengah Peuting (jam 00.00) Tengah Malam atau dalam Bahasa Sunda disebut Tengah Peuting.  Dalam sistem penanggalam modern, Tengah malam adalah saat pergantian (transisi) dari suatu hari ke hari berikutnya bersamaan dengan pergantian tanggal. Tengah malam merupakan kebalikan dari tengah hari. Pada masa modern ada waktu tengah malam, yang menandai perubahan hari, pada pukul 00:00:00.  Namun dalam budaya Sunda pergantian malam dimulai saat sareu...

Waspada Bila ada Arca Ganesha

Image
[Historiana] - Waspada bila ada arca Ganesha di dimaksudkan pada salah satu fungsinya. Arca Ganesha yang kini banyak tersimpan di Museum Nasional Jakarta berasal dari berbagai lokasi. Paling banyak dari candi-candi yang telah rusak atau dari reruntuhan candi peninggalan Kerajaan Kediri dan Singasari. Sebaran Arca Ganesha di Indonesia hampir merata di seluruh Nusantara. Selain dari percandian, beberapa arca Ganesha ditemukan dari lokasi-lokasi di luar kompleks percandian atau pura. Salah satu fungsi Arca Ganesha adalah Inilah yang dimaksud adalah fungsinya yang dipuja sebagai dewa penyingkir segala rintangan, baik gangguan gaib (magis) maupun gangguan fisik. Keberadaanya ditemukan di lereng-lereng bukit terjal yang rawan longsor, di tepi sungai, di tepi laut dan di hutan-hutan pedalaman yang dianggap angker. Mengingat alasan fungsi Arca Ganesha sebagai penyingkir rintangan dan bahaya perlu menjadi kewaspadaan kita di zaman modern ini. Arca "The Lost Ganesha" Gepolo Prambanan...

Dominasi Perempuan di Zaman Purba, Hingga Pemujaan Terhadap Dewi

Image
[Historiana] - Sebelumnya kita telah membahas  Agama Sebelum Adam | Ketika Dewa Utama Adalah Perempuan . Ada banyak bukti yang mengagetkan kita. Pemahaman selama ini ternyata dijungkirbalikan. Budaya manusia lebih banyak mendikte perempuan tinggal di rumah dan laki-laki bekerja di luar. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jutaan tahun lalu pola kehidupan perempuan dan laki-laki justru terbalik,  karena perempuanlah yang lebih banyak berada di luar tempat tinggal mereka. Sandi Copeland dari University of Colorado meneliti fosil manusia purba yang hidup di dalam goa di Afrika Selatan 1,8-2,2 juta tahun lalu. Spesimen tersebut terdiri dari delapan individu Australopithecus africanus yang dianggap nenek moyang langsung manusia modern dan sebelas individu Paranthropus robustus. Peneliti menitikberatkan penelitian pada keberadaan isotop-isotop strontium pada enamel gigi spesimen. Isotop-isotop yang diteliti adalah strontium-86 dan strontium-87. Dalam penelitian tersebut, seten...

Begini Kisah Leluhur Nusantara tentang Gempa Bumi dan Tsunami

Image
[Historiana] - Manusia Nusantara "akrab dengan bencana". Banyak ragam kearifan lokal di Indonesia yang mencatat peristiwa gempa bumi dan tsunami pada masa silam. Nusantara memang akrab dengan bencana sejak dahulu kala, dan dibalas alam dengan anugerah yang melimpah-ruah. Dari ujung barat di Aceh, ke tengah di Jawa, Bali, juga jajaran Kepulauan Nusa Tenggara, hingga ke kawasan timur yang meliputi Sulawesi, Maluku, sampai Papua, pernah mengalaminya. Kearifan lokal masyarakat di berbagai wilayah Nusantara telah mengabadikan memori gempa bumi dan tsunami dari masa ke masa itu, yang terbalut dalam babad, naskah, syair, cerita rakyat, hingga kidung atau rupa hikayat lainnya. Gempa dan Tsunami Bali dalam Babad Menjelang tengah malam tanggal 22 November 1815, gempa bumi besar mengguncang Bali hingga Nusa Tenggara. Pulau bergetar hebat. Terdengar suara menggelegar bak halilintar. Tanah-tanah longsor, gunung-gunung retak, bukit-bukit runtuh. Singaraja, pusat pemerintahan Kerajaan Bulel...

Mandala Pasirluhur: Cikal Bakal Kerajaan Pasir Luhur Banyumas | Mandala Tatar Sunda

Image
[Historiana] - Masih dalam artikel maraton tentang Kabuyutan atau Kamandalaan di tatar Sunda . Kamandalaan di tatar Pasundan adalah tempat suci dan tempat mempelajari ilmu keagamaan dalam agama Jati Sunda dan dipimpin oleh seorang Resi Guru. Kabuyutan berasaldari bahasa Sunda yaitu Uyut yang dapat diartikan leluhur. Istilah ini terbentuk dari kata dasar buyut. Adapun kata buyut mengandung dua pengertian. Pertama, sebagai turunan keempat (anak dari cucu) atau leluhur keempat (orang tua dari nenek dan kakek). Kedua, sebagai pantangan atau tabu alias cadu atau pamali. Kadang-kadang pengertian kabuyutan berfungsi sebagai kata sifat. Kata ini mengandung konotasi pada pertautan antargenerasi, bentangan waktu yang panjang, dan hal-ihwal yang dianggap keramat atau suci. Benda-benda tertentu, peninggalan para leluhur kerap dianggap kabuyutan, misalnya goong kabuyutan. Ada juga istilah satru kabuyutan yaitu musuh kabuyutan (musuh bebuyutan) berarti musuh yang turun-temurun, dan sukar berakhir. ...