Posts

Showing posts with the label Politik

Hasil Quick Count PILKADA JABAR 2018 - Data Update tiap 10 menit

Image
[Historiana] - Sejumlah daerah yang menggelar Pilkada 2018. Berbagai lembaga survei menggelar hitung cepat (quick count) setelah pemungutan suara Pilkada Serentak 2018. Hasil sementara quick count Pilgub Jabar berdasarkan Charta Politika mengunggulkan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum. Anda bisa jadi penasaran atas hasil perhitungan Pilkada 2018 yang serentak digelar hari ini, Rabu (27/6/2018). Kira-kira siapakah yang akan memimpin suara rakyat di masing-masing daerah? Anda bisa mengetahui hasil perolehan hitung cepat (quick qount) hari ini. Berikut data quick count Pilkada Jabar versi LSI Denny JA  hingga pukul 17.07 WIB dengan data masuk 97,33%: Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 32.89% Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 12.96% Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 28,11% Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 26,04% Berikut data quick count Pilkada Jabar versi Indo Barometer hingga pukul 16.25 WIB dengan data masuk 93,33%: Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 32,26% Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 13,01% Sudraj...

Leitkultur: Pancasila-nya Eropa? Jawaban untuk Masyarakat Paralel?

Image
Ilustrasi Leitkultur. Gambar: wize.life [Historiana] Tulisan ini marathon mengenai "masyarakat Paralel" yang melanda Eropa, juga Indonesia? Kini kita membahas Leitkultur; Jawaban untuk masyarakat paralel ? Istilah "masyarakat paralel" atau “Paralel Societies” sebenarnya adalah sebuah neologisme Jerman (Parallelgesellschaften) yang diciptakan pada tahun 1996 untuk tujuan menggambarkan komunitas imigran yang terpencil di Jerman. Bapak neologisme adalahi Profesor Wilhelm Heitmeyer dari Universitas Bielefeld, Jerman. Heitmeyer fokus pada isolasi imigran yang diinduksi oleh diri sendiri dari keturunan Turki atau Islam dan menyoroti bahaya menghindari inklusi sosial. Heitmeyer menjelaskan bahwa jika misalnya fundamentalis Islam berhasil mengarahkan kelompok - terutama imigran muda - ada bahaya menciptakan gelombang baru pelepasan sukarela dari korpus sosial, sehingga menghadirkan peluang untuk menciptakan masyarakat paralel di pinggiran masyarakat arus utama. Meyer (200...

"Masyarakat Paralel" Memecah Belah Bangsa?

Image
[Historiana] - Sebelumnya telah kita singgung pembahasan mengenai masyarakat paralel dan negara paralel . Kali ini kita membahas neologisme (istilah baru) masyarakat paralel yang cenderung negatif dan buruk. Wilhelm Heitmeyer, seorang ilmuwan sosial Jerman sebagai orang yang memperkenalkan istilah masyarakat paralel dalam 'Parallelgesellschaften' pada tahun 1996. Dia melakukannya untuk menggambarkan skenario di mana kelompok-kelompok fundamentalis Islam dikatakan mendapatkan kekuatan di komunitas Turki di Jerman, terutama di kalangan pemuda, dan bahwa kelompok-kelompok ini menyebarkan bentuk pemisahan budaya tersendiri dari masyarakat Jerman mainstream . Dia menulis bahwa "ada bahaya bahwa kelompok-kelompok agama-politik dapat membentuk" masyarakat paralel "di pinggiran masyarakat mayoritas." Dengan demikian, 'masyarakat paralel fundamentalis Islam' ini menimbulkan "bahaya yang semakin besar" dan menyebabkan "masyarakat yang terpecah-p...

Apa itu Negara Paralel, Masyarakat Paralel dan Radikalisme?

Image
Kanselir Austria: Tidak ada tempat untuk Masyarakat Paralel [Historiana] - Apakah itu "Negara Paralel" atau "Masyarakat Paralel"? Barangkali istilah ini asing bagi telinga kita. Pernyataan ini dalam berita terkini datang dari Kanselir Austria. "Masyarakat paralel, politik Islam dan kecenderungan radikal tidak mempunyai tempat di negara kami, " kata Kanselir Austria Sebastian Kurz, Jumat (08/06). Demikian kutipan berita dari bbc.com Pernyataan serupa juga datang dari Erdogan, Presiden Turki. Erdogan menyebutkan adanya "Negara Paralel" ketika kudeta militer terjadi di Turki. Sederhananya Negara paralel atau masyarakat paralel di negara kita disebut "negara dalam negara", sekalipun sebenarnya istilah keduanya berbeda. Asal usul istilah "negara paralel" "Negara paralel" adalah istilah yang diciptakan oleh sejarawan Amerika Robert Paxton untuk menggambarkan kumpulan organisasi atau lembaga yang mirip negara dalam organis...

Hati-hati dengan Madzhab Pemikiran Totaliterianisme dan Teokrasi

Image
ilustrasi: slideshare.net [Historiana] - Kehidupan berbangsa dan bernegara di Nusantara ini telah mengalami pasang surut. Lahirnya bangsa Indonesia 1945 dengan memilih bentuk negara Republik kerap mengalami ujian demi ujian. Berbagai ideologi menyeruak ke permukaan yang tak jarang berujung pada gerakan pemaksaan dalam berbagai bentuk kekerasan psikis dan fisik. Korban berjatuhan kerap melanda susunan terbawah masyarakat negeri ini yaitu: Rakyat! Akankah kita selalu melupakan sejarah? Nampaknya bangsa kita memang pelupa. Banyak kasus dari peristiwa sejarah di masa lalu tak kunjung jadi pelajaran. Tak pernah menjadi Hikmat (himah) yang dapat dipetik dari sebuah peristiwa. Ingat kata-kata dari Presiden RI pertama Soekarno: "Jasmerah" Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ya... jika kita dengan mudah melupakan sejarah, kita takkan pernah belajar darinya. Republik Indonesia akan berulang tahun pada tahun 2018 ini yang ke-73 tahun. Ujian keutuhan sebagai bangsa sepertinya tengah m...

Medsos Gaduh, Pilkada Ricuh | Politic is war

Image
Ilustrasi: Marc Creighton [Historiana] - Suasana gaduh media sosial (medos), pilkada ricuh? Politic is war. Tsun Tzu mengatakan bahwa politik adalah perang. Di tengah tibanya tahun politik ini, media sosial yang seakan menjadi “arena baru” pertarungan partai politik, berupa agitasi dan propaganda politik. Bahkan polarisasi pilpres 2014, yang menghadapkan Jokowi dan Prabowo, masih sangat terasa hingga sekarang. Masyarakat media sosial atau netizen terbelah, dan tak jarang saling melempar hoax, fitnah, maupun ujaran kebencian. Politik menginginkan hingar-bingar. Kegaduhan. Euforia. Kelatahan yang tak akan dibiarkan usai. Politik menafsukan persatuan dalam perceraian, begitu pula sebaliknya. Tidak ada kawan dan lawan yang yang abadi dalam politik. Yang abadi hanya satu: kepentingan, lebih khusus lagi yaitu kepentingan menguasai.. Oleh karena itu, yang terpampang dalam media sosial niscaya doa kemenangan. Ini adalah psikologi perang. Kegaduhan yang begitu mendalam di kalangan neti...